Minggu, 29 Mei 2016

Contoh Karya Tulis Sederhana SMP



Kunjungan ke Monas, Museum Fatahillah, Museum Keramik dan Seni Rupa
Di Jakarta




 Logo Sekolah






Disusun Oleh      :
Nama                  :
Kelas                   :
No. Absen           :




Alamat Sekolah











 Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat- Nya sehingga karya tulis ini dapat tersusun hingga selesai. Dan juga, saya mengucapkan banyak Terima Kasih atas bantuan dari pihak Monumen Nasional, Museum Fatahillah dan Museum Keramik yang senantiasa memberikan informasi kepada saya.
Tujuan saya membuat karya tulis ini adalah sebagai pemenuhan tugas karya tulis yang diberikan oleh ibu. Besar harapan saya agar karya tulis ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
              Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, karya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ini ke depannya.



Jakarta, 20 Januari 2016



Penulis








Daftar Isi

Kata Pengantar....................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................iii
BAB I : PENDAHULUAN....................................................................1
1.1        LATAR BELAKANG..............................................................1
1.2        RUMUSAN MASALAH..........................................................1
1.3        TUJUAN..................................................................................2
1.4           METODE PENELITIAN.......................................................2
1.5        KEGUNAAN PENELITIAN...................................................2
1.6          SISTEMATIKA PENELITIAN..............................................2
BAB II : PEMBAHASAN.....................................................................3
2.1        MONUMEN NASIONAL........................................................3
2.1.1     SEJARAH BERDIRINYA.......................................................3
2.1.2     3 TAHAP PEMBANGUNAN MONAS...................................4
2.1.3     BAGIAN-BAGIAN MONAS...................................................5
2.1.3.1  RUANG MUSEUM SEJARAH...............................................5
2.1.3.2  RUANG KEMERDEKAAN....................................................5
2.1.3.3  PELATARAN PUNCAK.........................................................6
2.1.3.4  LIDAH API KEMERDEKAAN..............................................7
2.1.4      BEBERAPA CERITA DARI 51 DIORAMA.........................7
2.1.4.1    BANDAR SRIWIJAYA, ABAD KE 7-13...............................7
2.1.4.2    CANDI BOROBUDUR SEKITAR 824 M............................8
2.1.4.3    BENDUNGAN WARINGIN SAPTA.....................................8
2.1.4.4    CANDI JAWI PERPADUAN SIVAISM-BUDHISME...........9
2.1.4.5    SUMPAH PALAPA.................................................................9
2.1.4.6    ARMADA PERANG MAJAPAHIT.....................................10
2.1.4.7    UTUSAN CINA KE MAJAPAHIT.......................................10
2.1.4.8    PERANAN PESANTREN....................................................11
2.1.4.9    PERLAWANAN PEMBENTUKAN JAYAKAR...................11
2.1.4.10  PERLAWANAN PATTIMURA............................................12
2.1.4.11  PERANG ACEH...................................................................13
2.1.4.12  TANAM PAKSA...................................................................13
2.1.4.13  KARTINI..............................................................................14
2.1.4.14  ROMUSHA...........................................................................14
2.1.4.15   PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA..............15
2.1.4.16  ALIH TEKNOLOGI.............................................................15
2.1.5       RELIEF SEJARAH INDONESIA.......................................16
2.1.6       BURUNG GARUDA MENJADI LAMBANG RI................17
2.1.7       LAPANGAN IKADA MENJADI TEMPAT MONAS.........18
2.2        MUSEUM FATAHILLAH......................................................18
2.2.1     SEJARAH BERDIRINYA......................................................18
2.2.2     KOLEKSI DI MUSEUM FATAHILLAH...............................20
2.2.3     AKTIVITAS YANG ADA DI MUSEUM FATAHILLAH.......21
2.2.4     FASILITAS DI MUSEUM FATAHILLAH.............................21
2.3        MUSEUM KERAMIK DAN SENI RUPA..............................22
2.3.1     SEJARAH BERDIRINYA.......................................................22
2.3.2     PAMERAN DI MUSEUM KERAMIK DAN SENI RUPA.....23
BAB III : PENUTUP.............................................................................24
3.1        KESIMPULAN........................................................................24
3.2        SARAN....................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................25
LAMPIRAN..........................................................................................26








BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
        Kegiatan belajar mengajar di sekolah merupakan usaha pemerintah untuk mencerdaskan generasi muda. Selain kegiatan itu, Sekolah  memiliki banyak program sekolah yang bersifat edukasi, salah satunya adalah karya wisata.
          Dalam  rangka  menjalankan  program  tahunan  , maka pihak sekolah memutuskan untuk  mengadakan karya wisata ke Monumen Nasional, Museum Fatahillah, Museum Keramik. Seperti yang kita ketahui, Karya Wisata merupakan salah satu program sekolah yang mengajak siswa belajar sambil rekreasi.
          Perlunya pengetahuan akan informasi mengenai sejarah bangsa Indonesia untuk menumbuhkan rasa nasionalisme di era zaman ini. Dan agar siswa dapat terlatih membuat karya tulis sederhana dan salah satu syarat untuk melengkapi nilai pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap  siswa  diwajibkan  membuat  dan  mengumpulkan  Karya Tulis. 

1.2  RUMUSAN MASALAH
1.2.1   Jelaskan sejarah berdirinya Monumen Nasional?
1.2.2   Berapa tahap pembangunan Monas?
1.2.3   Jelaskan bagian-bagian Monas?
1.2.4   Jelaskan beberapa cerita dari 51 diorama di Monas?
1.2.5   Apa makna Relief Sejarah Indonesia di sudut halaman luar Monas?
1.2.6   Mengapa burung Garuda menjadi Lambang Negara Indonesia ?
1.2.7   Mengapa Lapangan Ikada dipilih menjadi tempat berdirinya Monas?
1.2.8   Jelaskan sejarah berdirinya Museum Fatahillah ?
1.2.9   Apa saja koleksi di Museum Fatahillah?
1.2.10              Aktivitas apa saja yang dapat diikuti pengunjung Museum Fatahillah?
1.2.11              Ada fasilitas apa saja di Museum Fatahillah?
1.2.12              Jelaskan sejarah berdirinya Museum Keramik dan Seni Rupa?
1.2.13              Pameran apa saja yang ada di Museum Keramik dan Seni Rupa?


1.3 TUJUAN
        Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat disimpulkan tujuan dari pembuatan karya tulis ini ialah untuk menjalankan program tahunan Sekolah, perlunya informasi mengenai sejarah bangsa Indonesia, melatih penulis dalam menyusun karya tulis, dan mendapat nilai pelajaran Bahasa Indonesia.

1.4  METODE PENELITIAN
          Metode  yang  penulis  gunakan  dalam  karya  tulis  ini  adalah metode Observasi, yaitu penulis mengamati  objek-objek  wisata,  kemudian  mencatat  hal-hal  yang  penulis  anggap  penting, dan metode Interview, yaitu  penulis  mengadakan  tanya  jawab  dengan  pemandu  mengenai  objek  wisata  yang  dikunjungi.

1.5  KEGUNAAN PENELITIAN
          Banyak kegunaan dari kunjungan penulis ke Monumen Nasional, Museum Fatahillah, dan Museum Keramik. Kegunaannya adalah dapat menambah  ilmu  pengetahuan penulis tentang sejarah bangsa Indonesia, dan membuat  siswa  menjadi  lebih  kreatif  dan  informatif.

1.6  SISTEMATIKA PENELITIAN
          Sistematika dalam penulisan karya tulis ini memuat halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dan 3 bab. Bab pertama adalah pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian, kegunaan penelitian, sistematika penelitian, sedangkan Bab kedua adalah isi/pembahasan,  Bab ketiga adalah penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran. Dan yang terakhir ialah daftar pustaka dan lampiran.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Monumen Nasional
2.1.1 Sejarah berdirinya Monas :
     Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Soekarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus.
       Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.
Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

2.1.2 Pembangunan Monas terdiri atas 3 tahap :
     Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963.
Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto.
Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.

2.1.3   Bagian-bagian Monas
2.1.3.1   Ruang Museum Sejarah
    Ruang Museum Sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional dengan ukuran l uas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang, dan lantai secara keseluruhan berlapiskan marmer.
     Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.

2.1.3.2   Ruang Kemerdekaan
    Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas,

lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, d an dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945.
Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.


2.1.3.3   Pelataran Puncak

Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan elevator tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran Puncak yang luasnya 11X1 1 meter persegi, dan dapat menampung sebanyak 50 orang. Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmat pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator di dalam badan Tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.

2.1.3.4    Lidah Api Kemerdekaan
    Lidah Api di Pelataran Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan Lidah Api berlapis emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari halaman Tugu Monumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.

2.1.4   Beberapa Cerita dari 51 diorama
2.1.4.1 Bandar Sriwijaya , abad ke 7-13.
Terletak pada jalur pelayaran antara Indonesia, Cina dan India, berperan penting dalam kegiatan perdagangan sehingga menguntungkan bagi Kerajaan Sriwijaya. Kapal-Kapal asing banyak berlabuh dan pendeta-pendeta Buddha dari Cina sering singgah dan menetap untuk waktu yang lama



2.1.4.2               Candi Borobudur sekitar 824 M  
          Borobudur didirikan oleh raja Samaratungga dari keluarga Sailendra dengan bantuan    sumbangan para penganut agama Buddha secara gotong royong. Keseluruhan bangunan berbentuk stupa raksasa dan mencerminkan alam semesta.  Dalam pembangunan candi, hampir dua ratus ribu kaki kubik batu dipergunakan. Sejumlah 504 arca Buddha dan 1555 stupa besar dan kecil melengkapi monumen Buddha yang megah ini.
         
2.1.4.3  Bendungan Waringin Sapta
   Setelah raja Airlangga berhasil menyatukan wilayah kekuasaannya kemakmuran rakyat ditingkatkan. Kali Brantas dibendung di dekat Kelagen untuk irigasi serta menanggulangi banjir. Rakyat setempat ditunjuk untuk memelihara bendungan dan sebagai imbalan daerah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Akibatnya pelayaran kali Brantas bertambah ramai dan pelabuhan Hujung Galuh menjadi pusat perdagangan antar pulau.         



2.1.4.4          Candi Jawi Perpaduan Sivaism - Budhisme
                            
                              Perpaduan Sivaisme dan Budhisme sebagai hasil sinkretisme dapat dilihat pada candi Jawi yang terletak di gunung Welirang. Di sebalah barat daya Pandakan. Candi ini dibangun pada masa raja Kartanegara – raja terakhir Singasari. Puncaknya berbentuk Ratnastupa. Pada bagian atas terdapat Buddha Aksobhya dan di bagian bawah area Siva Mahadewa.                                    

                                 

2.1.4.5               Sumpah Palapa

                                  Sesudah Gajah Mada berhasil menyelesaikan perang Sadeng 1331, maka untuk
                              membela keutuhan Negara Majapahit dia bersumpah tidak akan makan Palapa
                              sebelum nusantara dapat dipersatukan. Sumpah Palapa adalah pendahulu cita-cita
                              persatuan Indonesia yang kemudian diperjuangkan para perintis kemerdekaan
                              sejak 1908.


2.1.4.6               Armada Perang Majapahit

                                       Sepeninggal Gajah Mada timbul kesulitan dalam pemerintah Hayam Wuruk.
                     Pemerintah yang baru berusaha mempertahankan keutuhan nusantara dengan
                     mengambil tindakan yang ditujukan kepada kemakmuran rakyat dan keamanan daerah-
                     daerah. Hal ini dibuktikan dengan memperkuat armada perang untuk menjaga keutuhan
                     Nusantara dan mengatasi usaha pengacauan antara lain oleh armada Cina.


2.1.4.7               Utusan Cina ke Majapahit
Sejak Majapahit mengalami zaman keemasan, hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga berlangsung dengan baik. Pengakuan terhadap kedaulatan Majapahit oleh Cina ditandai dengan kunjungan Cheng Ho pada tahun 1405 yang diterima oleh Wikramawardhana.


2.1.4.8               Peranan Pesantren dalam penyatuan Bangsa

                                         Salah satu cara menyiarkan Islam di Indonesia adalah melalui pendidikan di
                          pesantren atau pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai atau
                         ulama. Kegiatan pesantren-pesantren beserta kiai-kiai dalam penyebaran agama Islam
                         dan pengembangan pendidikan masyarakat mempunyai peranan penting dalam proses
                         penyatuan bangsa.

2.1.4.9               Pertempuran pembentukan Jayakarta

                                            Untuk membendung pengaruh Portugis yang sejak awal abad ke-16 telah
                             berkuasa di Malaka, Sultan Trenggono, Demak, mengirim Fatahillah dengan
                             pasukannya dan pada tahun 1527 Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa 
                             sebelum Portugis mendirikan benteng di pelabuhan Sunda Kelapa sesuai perjanjian
                            tahun 1522 dengan raja Pajajaran. Dalam pertempuran tanggal 22 Juni 1527 
                            di pelabuhan Sunda Kelapa, Fatahillah berhasil mengalahkan ekspedisi Fransisco de
                            Sa yang dikirim Portugis untuk mendirikan benteng di sana. Nama Sunda Kelapa 
                            kemudian diganti dengan Jayakarta yang berarti Kota Kemenangan.

2.1.4.10     Perlawanan Pattimura

                              Berdasarkan Konvensi London 1814, Belanda berkuasa kembali di Indonesia, serta
                 mengulangi menjalankan monopoli perdagangan dan segala sesuatu yang bersifat
                 ekploitasi dilaksanakan kembali. Rakyat Maluku tidak mau menerima politik monopoli 
                Belanda dan kemudia n mengadakan perlawanan di bawah pimpinan Patimura. Pada 
                tanggal 15 Mei 1817 Patimura bersama rakyat menyerbu benteng Duurstede di Saparua dan
                berhasil merebutnya.

2.1.4.11     Perang Aceh

                           Aceh menolak tuntutan Belanda agar menghentikan hubungannya dengan negara-
                          negara lain. Belanda segera mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Mayor Jenderal
                        Kohler. Serangan pertama Belanda gagal. Bahkan panglimanya, Kohler, gugur dalam
                       pertempuran dihalaman Masjid Agung Baiturrahman Banda Aceh. Pembakaran Masjid
                         Agung Baiturrahman semakin menumbuhkan semangat perlawanan rakyat terhadap
                          Belanda.
 
2.1.4.12     Tanam Paksa
            Perang Diponegoro mengakibatkan krisis keuangan bagi Belanda. Untuk mengatasi krisis tersebut Gubernur Jenderal Van Den Bosch memaksa rakyat di tanah Jawa menanami sebagian besar tanah mereka dengan tanaman yang laku di Eropa seperti nila, teh, kopi, lada, gula, dan kayu manis. Rakyat yang tidak memiliki tanah dipaksa bekerja di perkebunan-perkebunan. Bagi rakyat Indonesia tanam paksa merupakan eksploitasi yang luar biasa,mengakibatkan timbulnya kelaparan karena mereka tidak mempunyai kesempatan menggarap sawah ladang mereka.
2.1.4.13     Kartini
Gerakan mengejar kemajuan pada akhir abad ke-19 terbukti dari kebutuhan akan pendidikan; Kartini tampil sebagai pendekar kaumnya ketika pandangan umum masih dihinggapi konservatisme yang kuat bagi anak perempuan. Buah pikiran Kartini untuk membebaskan kaumnya dari keterbelakangan tercermin dalam surat-surat yang dikirim kepada sahabat-sahabat karibnya di negeri Belanda yang kemudian dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

2.1.4.14     Romusha
  Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang. Untuk memenangkan perang, Jepang kemudian secara paksa mengerahkan seluruh tenaga dan kekayaan bumi Indonesia. Rakyat dikerahkan untuk melaksanakan kerja paksa pada objek vital dan sarana militer. Mereka mengalami siksaan dan tidak mendapatkan makanan yang cukup dan akibatnya berpuluh-puluh ribu romusya menemui ajal ditempat-tempat mereka bekerja.

2.1.4.15     Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Mengetahui bahwa Jepang kalah perang, rakyat Indonesia baik para pemuda maupun para pemimpin pergerakan kebangsaan berpacu dengan waktu untuk memperjuangkan cita-cita perjuangan yakni mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selekas mungkin. Dalam pertemuan rahasia pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945 di Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta, naskah proklamasi dirumuskan, ditandatangani oleh Soekarno dan Moh. Hatta. Pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 Soekarno didampingi Moh. Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

2.1.4.16     Alih teknologi
Keberhasilan uji terbang perdana N-250 produksi Industri Pesawat Terbang Nusantara di Bandung, 10 Agustus 1995, merupakan prestasi putra-putri bangsa Indonesia yang membanggakan dalam upaya mengembangkan dan menerapkan teknologi tinggi di bidang kedirgantaraan. Berkaitan dengan itu, tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.

2.1.5       Relief Sejarah Indonesia

                 Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis
searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjaja han Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun beberapa patung dan arca tampak tak terawat dan rusak akibat hujan serta cuaca tropis.

2.1.6        Burung Garuda menjadi Lambang Negara Indonesia
Garuda menjadi lambang Negara Indonesia karena melambangkan hari kemerdekaan Indonesia dalam bentuk angka, yaitu 17 bulu sayap, 8 bulu ekor, 45 bulu pada leher, 19 pangkal leher. Lalu, pada kepalanya  Garuda menoleh ke sebelah kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.

2.1.7        Lapangan Ikada dipilih menjadi tempat berdirinya Monas
Dipilih di lapangan Ikada karena tempat ini berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan rakyatnya, merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia terhadap rakyat, menanamkan kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah nasib dengan kekuatan sendiri, rakyat mendukung pemerintah yang baru terbentuk. Buktinya, setiap instruksi pimpinan mereka laksanakan.


2.2       Museum Fatahillah
2.2.1 Sejarah berdirinya
Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama'’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangsang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

                        Sejarah gedungnya, Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620
                   oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun
                   1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut
                   catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua
                   dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang
                   sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah.
                    Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi
                    yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5
                    buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung
                    utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan
                    Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-
                     penjaranya terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.
Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie'’ (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942 setelah aktivitas Balai Kota dipindahkan ke Koningsplein Zuid (Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9, Jakarta Pusat), gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ‘'’Johannes Rach”’ yang berasal dari ‘'’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

2.2.2 Koleksi di Museum Fatahillah
Objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia.
Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

2.2.3 Aktivitas yang ada di museum Fatahillah
Sejak tahun 2001 sampai dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta menyelenggarakan Program Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum Sejarah Jakarta memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi yang dikaitkan dengan kegiatan wisata kampung tua setian minggu ke III setiap bulannya.
Selain itu, sejak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah Jakarta baik berskala nasional maupun internasional. Seminar yang telah diselenggarakan antara lain adalah seminar tentang keberadaan museum ditinjau dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung museum.
Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau khususnya peristiwa pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan teater pengadilan dimana masyarakat dapat berimprovisasi tentang pelaksanaan pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad ke-17. Aktivitas yang diikuti adalah wisata Kampung Tua (minimal 20 Orang), jelajah malam museum (minimal 20 Orang), Workshop Sketsa Gedung Tua (minimal 10 Orang), nonton bareng film-film jadul (minimal 20 Orang),  Pentas Seni ala Jakarta, Kunjungan ala tentara indonesia.

2.2.4                 Fasilitas di Museum Fatahillah
Fasilitasnya ada perpustakaan (Perpustakaan Museum Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa diantaranya bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible tahun 1702), kantin museum (dengan suasana nyaman Taman menawarkan makanan dan minuman khas betawi yang khas), Souvenir Shop(Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung yang dapat diperoleh di "souvenir shop" dengan harga terjangkau), Sinema Fatahillah(Menampilkan Film-film Dokumenter Zaman Batavia dan Film Populer Dalam Dan Luar Negeri), Musholla (Museum ini menyediakan musholla dengan perlengkapannya sehingga pengunjung tidak perlu khawatir kehilangan waktu salat), Ruang Pertemuan dan Pameran (Menyediakan ruangan yang representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan daya tampung lebih dari 150 orang), taman dalam (Taman yang asri dengan luas 1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk Gathering, resepsi pernikahan, Pentas Seni).

2.3           Museum Keramik dan Seni Rupa
2.3.1 Sejarah berdirinya
Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.
Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.
Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
2.3.2 Pameran di Museum Keramik dan Seni Rupa
Museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang. Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu: Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890), Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an, Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945), Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an), Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang).
Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain. Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.









BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
          Berdasarkan uraian diatas kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan diatas bahwa Monumen  Nasional mempunyai peranan penting dalam usaha dan sejarah perjuangan bangsa indonesia, Monumen  Nasional, Museum Fatahillah, Museum Keramik dan Seni Rupa  Merupakan  objek  wisata  yang  sangat  menarik dan bersejarah.

3.2 Saran
          Program  kegiatan  karya wisata ini  perlu  ditingkatkan  untuk  melatih  dan  mendidik  siswa  agar  menjadi  lebih  baik.  Pihak  sekolah  juga  perlu  memperhatikan  tempat  karya wisata yang  baik  agar  selain  berwisata,  siswa  juga  dapat  belajar  dan  menambah  wawasan dan sebaiknya sebagai murid yang baik kita harus melestarikan dan mengembangkan budaya kita sendiri, bukan sebaliknya.





DAFTAR PUSTAKA















 LAMPIRAN
 lampiran berisi gambar gambar







Jika ingin mengcopy-paste artikel ini, dimohon untuk mencantumkan alamat web di daftar pustaka. THANKS.... :D. dan maaf jika penataan masih kurang rapi.