Kunjungan ke Monas, Museum
Fatahillah, Museum Keramik dan Seni Rupa
Di Jakarta
Logo Sekolah
Disusun
Oleh :
Nama :
Kelas :
No.
Absen :
Alamat Sekolah
Kata
Pengantar
Puji syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat- Nya sehingga karya tulis ini
dapat tersusun hingga selesai. Dan juga, saya mengucapkan banyak Terima Kasih
atas bantuan dari pihak Monumen Nasional, Museum Fatahillah dan Museum Keramik
yang senantiasa memberikan informasi kepada saya.
Tujuan saya membuat
karya tulis ini adalah sebagai pemenuhan tugas karya tulis yang diberikan oleh ibu. Besar harapan saya agar karya tulis ini dapat menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca.
Karena
keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya, karya tulis ini masih jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan saran dan kritik
yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan karya tulis ini ke depannya.
Jakarta, 20 Januari 2016
Penulis
Daftar
Isi
Kata
Pengantar....................................................................................ii
Daftar
Isi..............................................................................................iii
BAB I :
PENDAHULUAN....................................................................1
1.1 LATAR
BELAKANG..............................................................1
1.2 RUMUSAN
MASALAH..........................................................1
1.3 TUJUAN..................................................................................2
1.4 METODE
PENELITIAN.......................................................2
1.5 KEGUNAAN
PENELITIAN...................................................2
1.6 SISTEMATIKA PENELITIAN..............................................2
BAB II :
PEMBAHASAN.....................................................................3
2.1 MONUMEN NASIONAL........................................................3
2.1.1 SEJARAH BERDIRINYA.......................................................3
2.1.2 3 TAHAP PEMBANGUNAN MONAS...................................4
2.1.3 BAGIAN-BAGIAN
MONAS...................................................5
2.1.3.1 RUANG MUSEUM
SEJARAH...............................................5
2.1.3.2 RUANG
KEMERDEKAAN....................................................5
2.1.3.3 PELATARAN PUNCAK.........................................................6
2.1.3.4 LIDAH API
KEMERDEKAAN..............................................7
2.1.4 BEBERAPA CERITA DARI 51
DIORAMA.........................7
2.1.4.1 BANDAR SRIWIJAYA, ABAD KE 7-13...............................7
2.1.4.2 CANDI BOROBUDUR SEKITAR 824 M............................8
2.1.4.3 BENDUNGAN WARINGIN SAPTA.....................................8
2.1.4.4 CANDI JAWI PERPADUAN SIVAISM-BUDHISME...........9
2.1.4.5 SUMPAH PALAPA.................................................................9
2.1.4.6 ARMADA PERANG MAJAPAHIT.....................................10
2.1.4.7 UTUSAN CINA KE MAJAPAHIT.......................................10
2.1.4.8 PERANAN PESANTREN....................................................11
2.1.4.9 PERLAWANAN PEMBENTUKAN JAYAKAR...................11
2.1.4.10 PERLAWANAN
PATTIMURA............................................12
2.1.4.11 PERANG
ACEH...................................................................13
2.1.4.12 TANAM
PAKSA...................................................................13
2.1.4.13 KARTINI..............................................................................14
2.1.4.14 ROMUSHA...........................................................................14
2.1.4.15 PROKLAMASI KEMERDEKAAN
INDONESIA..............15
2.1.4.16 ALIH TEKNOLOGI.............................................................15
2.1.5 RELIEF SEJARAH
INDONESIA.......................................16
2.1.6 BURUNG GARUDA MENJADI LAMBANG RI................17
2.1.7 LAPANGAN IKADA MENJADI TEMPAT MONAS.........18
2.2 MUSEUM
FATAHILLAH......................................................18
2.2.1 SEJARAH BERDIRINYA......................................................18
2.2.2 KOLEKSI DI MUSEUM FATAHILLAH...............................20
2.2.3 AKTIVITAS YANG ADA DI MUSEUM FATAHILLAH.......21
2.2.4 FASILITAS DI MUSEUM FATAHILLAH.............................21
2.3 MUSEUM
KERAMIK DAN SENI RUPA..............................22
2.3.1 SEJARAH BERDIRINYA.......................................................22
2.3.2 PAMERAN DI MUSEUM KERAMIK DAN SENI RUPA.....23
BAB III :
PENUTUP.............................................................................24
3.1 KESIMPULAN........................................................................24
3.2 SARAN....................................................................................24
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................25
LAMPIRAN..........................................................................................26
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kegiatan belajar mengajar di sekolah
merupakan usaha pemerintah untuk mencerdaskan generasi muda. Selain kegiatan itu,
Sekolah memiliki banyak program sekolah yang bersifat edukasi,
salah satunya adalah karya wisata.
Dalam rangka
menjalankan program tahunan , maka pihak sekolah memutuskan untuk mengadakan karya wisata ke Monumen Nasional,
Museum Fatahillah, Museum Keramik. Seperti yang kita ketahui, Karya Wisata merupakan
salah satu program sekolah yang mengajak siswa belajar sambil rekreasi.
Perlunya
pengetahuan akan informasi mengenai sejarah bangsa Indonesia untuk menumbuhkan
rasa nasionalisme di era zaman ini. Dan agar siswa dapat
terlatih membuat karya tulis sederhana dan salah satu syarat untuk melengkapi
nilai pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap
siswa diwajibkan membuat
dan mengumpulkan Karya Tulis.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1
Jelaskan sejarah berdirinya Monumen
Nasional?
1.2.2
Berapa tahap pembangunan Monas?
1.2.3
Jelaskan bagian-bagian Monas?
1.2.4
Jelaskan beberapa cerita dari 51 diorama
di Monas?
1.2.5
Apa makna Relief Sejarah Indonesia di
sudut halaman luar Monas?
1.2.6
Mengapa burung Garuda menjadi Lambang
Negara Indonesia ?
1.2.7
Mengapa Lapangan Ikada dipilih menjadi
tempat berdirinya Monas?
1.2.8
Jelaskan sejarah berdirinya Museum
Fatahillah ?
1.2.9
Apa saja koleksi di Museum Fatahillah?
1.2.10
Aktivitas apa saja yang dapat diikuti
pengunjung Museum Fatahillah?
1.2.11
Ada fasilitas apa saja di Museum
Fatahillah?
1.2.12
Jelaskan sejarah berdirinya Museum
Keramik dan Seni Rupa?
1.2.13
Pameran apa saja yang ada di Museum
Keramik dan Seni Rupa?
1.3 TUJUAN
Berdasarkan uraian latar belakang di
atas maka dapat disimpulkan tujuan dari pembuatan karya tulis ini ialah untuk
menjalankan program tahunan Sekolah, perlunya informasi
mengenai sejarah bangsa Indonesia, melatih penulis dalam menyusun karya tulis,
dan mendapat nilai pelajaran Bahasa Indonesia.
1.4 METODE PENELITIAN
Metode yang
penulis gunakan dalam
karya tulis ini
adalah metode Observasi, yaitu penulis mengamati objek-objek
wisata, kemudian mencatat
hal-hal yang penulis
anggap penting, dan metode
Interview, yaitu penulis mengadakan
tanya jawab dengan
pemandu mengenai objek
wisata yang dikunjungi.
1.5 KEGUNAAN PENELITIAN
Banyak
kegunaan dari kunjungan penulis ke Monumen Nasional, Museum Fatahillah, dan
Museum Keramik. Kegunaannya adalah dapat menambah ilmu
pengetahuan penulis tentang sejarah bangsa Indonesia, dan membuat siswa
menjadi lebih kreatif dan
informatif.
1.6 SISTEMATIKA PENELITIAN
Sistematika
dalam penulisan karya tulis ini memuat halaman judul, kata pengantar, daftar
isi, dan 3 bab. Bab pertama adalah pendahuluan, yang berisi tentang latar
belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian,
kegunaan penelitian, sistematika penelitian, sedangkan Bab kedua adalah
isi/pembahasan, Bab ketiga adalah
penutup yang terdiri atas kesimpulan dan saran. Dan yang terakhir ialah daftar
pustaka dan lampiran.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Monumen Nasional
2.1.1 Sejarah
berdirinya Monas :
Setelah
pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya
berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan
Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Soekarno
mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan
Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas
bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa
revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat
patriotisme generasi penerus.
Pada
tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara
perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang
masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang
memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter
bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad.
Sayembara kedua digelar pada tahun
1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria.
Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada
Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan
monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang
monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban
terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung
oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban
menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan
ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M.
Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8
dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun
di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R.
M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.
2.1.2
Pembangunan Monas terdiri atas 3 tahap :
Tahap pertama, kurun
1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada
tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak
beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan.
Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional.
Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum
di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian
dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963.
Pembangunan
tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan
30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda.
Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada
museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi,
antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka
untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik
Indonesia Soeharto.
Lokasi
pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas
mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada,
Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat
taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada
hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati
pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
2.1.3
Bagian-bagian Monas
2.1.3.1
Ruang Museum Sejarah
Ruang Museum
Sejarah terletak 3 meter di bawah permukaan halaman Tugu Monumen Nasional
dengan ukuran l uas 80X80 meter persegi. Dinding, tiang,
dan lantai secara keseluruhan berlapiskan marmer.
Di ruang Museum Sejarah terdapat 51 jendela peragaan (diorama) yang
mengabadikan peristiwa sejarah sejak zaman kehidupan nenek moyang bangsa
Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa
Indonesia, hingga masa pembangunan Orde Baru.
2.1.3.2
Ruang Kemerdekaan
Di
bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater.
Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan
selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik
Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang
disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas,
lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara
Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, d an
dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen
Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan
bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia.
Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam
pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4
ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan
keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak
pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam.
Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan
membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian
oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus
1945.
Pada sisi selatan terdapat patung
Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5
ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi
berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan
dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17
Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh,
bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara dinding marmer hitam ini
menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
2.1.3.3
Pelataran Puncak
Pelataran Puncak Tugu Monumen Nasional terletak pada
ketinggian 115 meter dari halaman Tugu Monumen Nasional. Dengan
elevator
tunggal berkapasitas maksimum 11 orang pengunjung dapat mencapai Pelataran
Puncak yang luasnya 11X1 1 meter persegi, dan dapat menampung
sebanyak 50 orang. Di pelataran ini, pengunjung dapat menikmat pemandangan
seluruh penjuru kota Jakarta. Di sekeliling rangka elevator di dalam badan
Tugu, terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi.
2.1.3.4
Lidah Api Kemerdekaan
Lidah Api di Pelataran
Puncak dibuat dari perunggu seberat 14,5 ton dengan tinggi 14 meter dan
berdiameter 6 meter, terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Seluruh permukaan
Lidah Api berlapis emas (gold leaf) seberat lebih kurang 50 kg. Ketinggian dari
halaman Tugu Monumen Nasional sampai dengan puncak Lidah Api adalah 132 meter.
2.1.4 Beberapa
Cerita dari 51 diorama
2.1.4.1 Bandar Sriwijaya , abad ke 7-13.
Terletak pada jalur pelayaran antara Indonesia, Cina
dan India, berperan penting dalam kegiatan perdagangan sehingga menguntungkan
bagi Kerajaan Sriwijaya. Kapal-Kapal asing banyak berlabuh dan pendeta-pendeta
Buddha dari Cina sering singgah dan menetap untuk waktu yang
lama
2.1.4.2
Candi Borobudur sekitar 824 M
Borobudur didirikan oleh raja Samaratungga dari keluarga Sailendra dengan bantuan sumbangan para penganut agama Buddha secara gotong royong. Keseluruhan bangunan berbentuk stupa raksasa dan mencerminkan alam semesta. Dalam pembangunan candi, hampir dua ratus ribu kaki kubik batu dipergunakan. Sejumlah 504 arca Buddha dan 1555 stupa besar dan kecil melengkapi monumen Buddha yang megah ini.
Borobudur didirikan oleh raja Samaratungga dari keluarga Sailendra dengan bantuan sumbangan para penganut agama Buddha secara gotong royong. Keseluruhan bangunan berbentuk stupa raksasa dan mencerminkan alam semesta. Dalam pembangunan candi, hampir dua ratus ribu kaki kubik batu dipergunakan. Sejumlah 504 arca Buddha dan 1555 stupa besar dan kecil melengkapi monumen Buddha yang megah ini.
2.1.4.3
Bendungan Waringin Sapta
Setelah
raja Airlangga berhasil menyatukan wilayah kekuasaannya kemakmuran rakyat
ditingkatkan. Kali Brantas dibendung di dekat Kelagen untuk irigasi serta
menanggulangi banjir. Rakyat setempat ditunjuk untuk memelihara bendungan dan
sebagai imbalan daerah
tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Akibatnya
pelayaran kali Brantas bertambah ramai dan pelabuhan Hujung Galuh menjadi pusat
perdagangan antar pulau.
2.1.4.4
Candi Jawi Perpaduan
Sivaism - Budhisme
Perpaduan Sivaisme dan Budhisme sebagai hasil sinkretisme
dapat dilihat pada candi Jawi yang terletak di gunung Welirang. Di sebalah
barat daya Pandakan. Candi ini dibangun pada masa raja Kartanegara – raja
terakhir Singasari. Puncaknya berbentuk Ratnastupa. Pada bagian atas terdapat
Buddha Aksobhya dan di bagian bawah area Siva Mahadewa.
2.1.4.5
Sumpah Palapa
Sesudah
Gajah Mada berhasil menyelesaikan perang Sadeng 1331, maka untuk
membela
keutuhan Negara Majapahit dia bersumpah tidak akan makan Palapa
sebelum
nusantara dapat dipersatukan. Sumpah Palapa adalah pendahulu cita-cita
persatuan Indonesia yang kemudian diperjuangkan para perintis kemerdekaan
sejak
1908.
2.1.4.6
Armada Perang Majapahit
Sepeninggal
Gajah Mada timbul kesulitan dalam pemerintah Hayam Wuruk.
Pemerintah yang baru
berusaha mempertahankan keutuhan nusantara dengan
mengambil tindakan yang
ditujukan kepada kemakmuran rakyat dan keamanan daerah-
daerah. Hal ini
dibuktikan dengan memperkuat armada perang untuk menjaga keutuhan
Nusantara dan
mengatasi usaha pengacauan antara lain oleh armada Cina.
2.1.4.7
Utusan Cina ke Majapahit
Sejak
Majapahit mengalami zaman keemasan, hubungan persahabatan dengan negara-negara
tetangga berlangsung dengan baik. Pengakuan
terhadap
kedaulatan Majapahit oleh Cina ditandai dengan kunjungan Cheng Ho pada tahun
1405 yang diterima oleh Wikramawardhana.
2.1.4.8
Peranan
Pesantren dalam penyatuan Bangsa
Salah satu cara menyiarkan Islam di
Indonesia adalah melalui pendidikan di
pesantren atau pondok yang
diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai atau
ulama. Kegiatan
pesantren-pesantren beserta kiai-kiai dalam penyebaran agama Islam
dan
pengembangan pendidikan masyarakat mempunyai peranan penting dalam proses
penyatuan bangsa.
2.1.4.9
Pertempuran pembentukan Jayakarta
Untuk membendung pengaruh Portugis
yang sejak awal abad ke-16 telah
berkuasa di Malaka, Sultan Trenggono, Demak,
mengirim Fatahillah dengan
pasukannya dan pada tahun 1527 Fatahillah berhasil
merebut Sunda Kelapa
sebelum Portugis mendirikan benteng di pelabuhan Sunda
Kelapa sesuai perjanjian
tahun 1522 dengan raja Pajajaran. Dalam pertempuran
tanggal 22 Juni 1527
di pelabuhan Sunda Kelapa, Fatahillah berhasil mengalahkan
ekspedisi Fransisco de
Sa yang dikirim Portugis untuk mendirikan benteng di
sana. Nama Sunda Kelapa
kemudian diganti dengan Jayakarta yang berarti Kota
Kemenangan.
2.1.4.10
Perlawanan Pattimura
Berdasarkan Konvensi London
1814, Belanda berkuasa kembali di Indonesia, serta
mengulangi menjalankan
monopoli perdagangan dan segala sesuatu yang bersifat
ekploitasi dilaksanakan
kembali. Rakyat Maluku tidak mau menerima politik monopoli
Belanda dan kemudia n mengadakan perlawanan di bawah
pimpinan Patimura. Pada
tanggal 15 Mei 1817 Patimura bersama rakyat menyerbu
benteng Duurstede di Saparua dan
berhasil merebutnya.
2.1.4.11
Perang Aceh
Aceh menolak tuntutan Belanda agar menghentikan hubungannya
dengan negara-
negara lain. Belanda segera mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh
Mayor Jenderal
Kohler. Serangan pertama Belanda gagal. Bahkan panglimanya,
Kohler, gugur dalam
pertempuran dihalaman Masjid Agung Baiturrahman Banda
Aceh. Pembakaran Masjid
Agung Baiturrahman semakin menumbuhkan semangat
perlawanan rakyat terhadap
Belanda.
2.1.4.12
Tanam Paksa
Perang
Diponegoro mengakibatkan krisis keuangan bagi Belanda. Untuk mengatasi krisis
tersebut Gubernur Jenderal Van Den Bosch memaksa rakyat di tanah Jawa menanami
sebagian besar tanah mereka dengan tanaman yang laku di Eropa seperti nila,
teh, kopi, lada, gula, dan kayu manis. Rakyat yang tidak memiliki tanah dipaksa
bekerja di perkebunan-perkebunan. Bagi rakyat Indonesia tanam paksa merupakan
eksploitasi yang luar biasa,mengakibatkan timbulnya kelaparan karena mereka
tidak mempunyai kesempatan menggarap sawah ladang mereka.
2.1.4.13
Kartini
Gerakan
mengejar kemajuan pada akhir abad ke-19 terbukti dari kebutuhan akan
pendidikan; Kartini tampil sebagai pendekar kaumnya ketika pandangan umum masih
dihinggapi konservatisme yang kuat bagi anak perempuan. Buah pikiran Kartini
untuk membebaskan kaumnya dari keterbelakangan tercermin dalam surat-surat yang
dikirim kepada sahabat-sahabat karibnya di negeri Belanda yang kemudian
dihimpun dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
2.1.4.14
Romusha
Pada tanggal 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang di
Kalijati, Subang. Untuk memenangkan perang, Jepang kemudian secara paksa
mengerahkan seluruh tenaga dan kekayaan bumi Indonesia. Rakyat dikerahkan untuk
melaksanakan kerja paksa pada objek vital dan sarana militer. Mereka mengalami siksaan
dan tidak mendapatkan makanan yang cukup dan akibatnya berpuluh-puluh ribu
romusya menemui ajal ditempat-tempat mereka bekerja.
2.1.4.15
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Mengetahui bahwa
Jepang kalah perang, rakyat Indonesia baik para pemuda maupun para pemimpin
pergerakan kebangsaan berpacu dengan waktu untuk memperjuangkan cita-cita
perjuangan yakni mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selekas mungkin.
Dalam pertemuan rahasia pada malam hari tanggal 16 Agustus 1945 di Jalan Imam
Bonjol 1 Jakarta, naskah proklamasi dirumuskan, ditandatangani oleh Soekarno
dan Moh. Hatta. Pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 Soekarno didampingi
Moh. Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
2.1.4.16
Alih teknologi
Keberhasilan uji terbang perdana N-250 produksi Industri
Pesawat Terbang Nusantara di Bandung, 10 Agustus 1995, merupakan prestasi
putra-putri bangsa Indonesia yang membanggakan dalam upaya mengembangkan dan
menerapkan teknologi tinggi di bidang kedirgantaraan. Berkaitan dengan itu,
tanggal 10 Agustus ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
2.1.5 Relief
Sejarah Indonesia
Pada
tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang
menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan
mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah
Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis
searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya,
dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjaja han
Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia,
terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal
abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi
kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik
Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan
patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun
beberapa patung dan arca tampak tak terawat dan rusak akibat hujan serta cuaca
tropis.
2.1.6
Burung
Garuda menjadi Lambang Negara Indonesia
Garuda menjadi lambang Negara
Indonesia karena melambangkan hari kemerdekaan Indonesia dalam bentuk angka,
yaitu 17 bulu sayap, 8 bulu ekor, 45 bulu pada leher, 19 pangkal leher. Lalu,
pada kepalanya Garuda menoleh ke sebelah
kanan (dari sudut pandang Garuda), perisai berbentuk menyerupai jantung yang
digantung dengan rantai pada leher Garuda, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika
yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” ditulis di atas pita yang
dicengkeram oleh Garuda. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari
Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan
pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik
Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.
2.1.7
Lapangan
Ikada dipilih menjadi tempat berdirinya Monas
Dipilih di lapangan Ikada karena
tempat ini berhasil mempertemukan pemerintah Republik Indonesia dengan
rakyatnya, merupakan perwujudan kewibawaan pemerintah Republik Indonesia
terhadap rakyat, menanamkan kepercayaan diri bahwa rakyat Indonesia mampu mengubah
nasib dengan kekuatan sendiri, rakyat mendukung pemerintah yang baru terbentuk.
Buktinya, setiap instruksi pimpinan mereka laksanakan.
2.2
Museum Fatahillah
2.2.1 Sejarah
berdirinya
Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan
rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan
tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di
sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum
Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia
Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum
Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan
selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama'’ diserahkan kepada PEMDA
DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian
meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret
1974.
Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum
Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar
tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia,
tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia
maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk
menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat
rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi
mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga
masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya
Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan
Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia
dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha
menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangsang pengunjung
untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya
warisan budaya.
oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun
1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut
catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua
dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang
sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah.
Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi
yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5
buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung
utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan
Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-
penjaranya terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini.
Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga
digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie'’ (dewan pengadilan). Pada tahun
1925-1942 setelah aktivitas Balai Kota dipindahkan ke Koningsplein Zuid
(Sekarang Jl. Medan Merdeka No. 8-9, Jakarta Pusat), gedung ini dimanfaatkan
sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai
untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi
markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503
Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu
diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.
Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota
dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah
lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ‘'’Johannes Rach”’ yang berasal dari
‘'’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang
merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal
dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada
tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan
pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu
dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur
di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan
kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’
untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.
2.2.2
Koleksi di Museum Fatahillah
Objek-objek yang
dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika
peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di
Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan
dari gaya Eropa, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Juga ada keramik,
gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang,
seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang
Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang Batavia.
Terdapat juga
berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini
juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa
keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di
perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.
Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang
dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.
2.2.3
Aktivitas yang ada di museum Fatahillah
Sejak
tahun 2001 sampai dengan 2002 Museum Sejarah Jakarta menyelenggarakan Program
Kesenian Nusantara setiap minggu ke-II dan ke-IV untuk tahun 2003 Museum
Sejarah Jakarta memfokuskan kegiatan ini pada kesenian yang bernuansa Betawi
yang dikaitkan dengan kegiatan wisata kampung tua setian minggu ke III setiap
bulannya.
Selain itu, sejak tahun 2001 Museum Sejarah Jakarta
setiap tahunnya menyelenggarakan seminar mengenai keberadaan Museum Sejarah
Jakarta baik berskala nasional maupun internasional. Seminar yang telah
diselenggarakan antara lain adalah seminar tentang keberadaan museum ditinjau
dari berbagai aspek dan seminar internasional mengenai arsitektur gedung
museum.
Untuk merekonstruksi sejarah masa lampau khususnya
peristiwa pengadilan atas masyarakat yang dinyatakan bersalah, ditampilkan
teater pengadilan dimana masyarakat dapat berimprovisasi tentang pelaksanaan
pengadilan sekaligus memahami jiwa zaman pada abad ke-17. Aktivitas yang diikuti adalah wisata
Kampung Tua (minimal 20 Orang), jelajah malam museum (minimal 20 Orang),
Workshop Sketsa Gedung Tua (minimal 10 Orang), nonton bareng film-film jadul (minimal
20 Orang), Pentas Seni ala Jakarta, Kunjungan
ala tentara indonesia.
2.2.4
Fasilitas di Museum Fatahillah
Fasilitasnya ada perpustakaan (Perpustakaan Museum
Sejarah Jakarta mempunyai koleksi buku 1200 judul. Bagi para pengunjung dapat
memanfaatkan perpustakaan tersebut pada jam dan hari kerja Museum. Buku-buku
tersebut sebagian besar peninggalan masa kolonial, dalam berbagai bahasa diantaranya
bahasa Belanda, Melayu, Inggris dan Arab. Yang tertua adalah Alkitab/Bible
tahun 1702), kantin museum (dengan suasana nyaman Taman menawarkan makanan dan
minuman khas betawi yang khas), Souvenir
Shop(Museum menyediakan cinderamata untuk kenang-kenangan para pengunjung
yang dapat diperoleh di "souvenir shop" dengan harga terjangkau),
Sinema Fatahillah(Menampilkan Film-film Dokumenter Zaman Batavia dan Film
Populer Dalam Dan Luar Negeri), Musholla (Museum ini menyediakan musholla
dengan perlengkapannya sehingga pengunjung tidak perlu khawatir kehilangan
waktu salat), Ruang Pertemuan dan Pameran (Menyediakan ruangan yang
representatif untuk kegiatan pertemuan, diskusi, seminar dan pameran dengan
daya tampung lebih dari 150 orang), taman dalam (Taman yang asri dengan luas
1000 meter lebih, serta dapat dimanfaatkan untuk Gathering, resepsi pernikahan,
Pentas Seni).
2.3
Museum Keramik dan Seni Rupa
2.3.1 Sejarah berdirinya
Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu
awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman
pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia).
Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat
itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.
Pada
10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu
dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun
1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan
baru setelah itu diresmikan oleh Presiden (saat itu) Soeharto sebagai Balai
Seni Rupa Jakarta.
Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai
Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman
DKI Jakarta.
2.3.2 Pameran di Museum Keramik dan Seni Rupa
Museum ini
menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu
1800-an hingga saat sekarang. Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi
beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu: Ruang Masa Raden Saleh
(karya-karya periode 1880 - 1890), Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya
periode 1920-an, Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an), Ruang Masa
Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945), Ruang Pendirian Sanggar
(karya-karya periode 1945 - 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme
(karya-karya periode 1950-an), Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya
periode 1960 - sekarang).
Untuk Koleksi
seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain. Sedangkan
koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni
kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara
seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16
sampai dengan awal abad 20.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas kesimpulan
yang dapat ditarik dari pembahasan diatas bahwa Monumen Nasional mempunyai peranan penting dalam
usaha dan sejarah perjuangan bangsa indonesia, Monumen Nasional, Museum Fatahillah, Museum Keramik
dan Seni Rupa Merupakan objek
wisata yang sangat
menarik dan bersejarah.
3.2 Saran
Program kegiatan
karya wisata ini perlu ditingkatkan
untuk melatih dan
mendidik siswa agar
menjadi lebih baik.
Pihak sekolah juga
perlu memperhatikan tempat
karya wisata yang baik agar
selain berwisata, siswa
juga dapat belajar
dan menambah wawasan dan sebaiknya sebagai murid yang baik
kita harus melestarikan dan mengembangkan budaya kita sendiri, bukan
sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
lampiran berisi gambar gambar
Jika ingin mengcopy-paste artikel ini, dimohon untuk mencantumkan alamat web di daftar pustaka. THANKS.... :D. dan maaf jika penataan masih kurang rapi.